Yakinkah Orang yang sudah meninggal bisa mendengar dan melihatmu

Jumat, Januari 12, 2018
Beberapa orang bertanya, “Apakah ruh orang yang sudah meninggal bisa mendengar perkataan orang yang masih hidup?”
Setelah-Kematian

Pertanyaan seperti ini sering muncul dari sebagian orang yang meragukan keberadaan ruh bisa mendengar orang yang masih hidup, mereka beranggapan bahwa saat orang sudah meninggal maka ia terputus dengan segala yang berkaitan dengan dunia.

Ada beberapa riwayat tentang jenazah yang mampu mendengar sebagai jawaban dari pertanyaan diatas. Imam al-Bukhari telah meriwayatkan dari Anas dari Nabi s.a.w. sebagai berikut:

اْلعَبْدُ اِذَا وُضِعَ فِى قَبْرِهِ وَتُوُلِّيَ وَذَهَبَ اَصْحَابُهُ حَتَّى اِنَّهُ لَيَسْمَعُ قَرْعَ نِعَالِهِمْ اَتَاهُ مَلَكَانِ فَأقْعَدَاهُ فَيَقُوْلانَ لَهُ مَاكُنْتَ تَقُوْلُ فِى هذَا الرَّجُلِ مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم، فَيَقُوْلُ اَشْهَدُ اَنَّهُ عَبْدُاللهِ وَرَسُوْلُهُ فَيُقَالُ اُنْظُرْ اِلَى مَقْعَدِكَ مِنَ النَّارِ، اَبْدَلَكَ اللهُ بِهِ مَقْعَدًا مِنَ اْلجَنَّةِ، قَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم، فَرَأَهُمَا جَمِيْعًا. وَاَمَّااْلكَافِرُ اَوِ الْمُنَافقِ فيَقوُل لا ادْرِيْ كُنْتُ اقَوُل مَا يَقوُل النَّاسُ فَيقَال لا دَرَيْتَ لا تَليَتَ ثمُّ يضرَبُ بمِطْرَقةَ مِنْ حَدِيْدٍ ضَرْبَةً بَيْنَ أذُنَيْه فيَصِيْحُ صَيْحَةً يَسْمَعُهَا مَنْ يَلِيْهِ اِلاَّ الثَّقَلَيْنِ.
Artinya: “Apabila seorang mayat telah diletakkan dalam kubur, dan orang-orang telah meninggalkannya, maka dua malaikat mendatanginya dan bertanya : bagaimana pendapatmu mengenai Muhammad ? ia menjawab, aku bersaksi ia adalah hamba Allah dan Rasulnya. Maka malaikat berkata, lihatlah tempatmu di neraka telah diganti dengan surge. Maka orang itupun bisa melihat surga dan neraka. Adapun orang kafir dan munafik, maka dia akan menjawab, “aku tidak tahu.” Dulu aku berpendapat sebagaimana pendapat orang-orang. Maka dikatakan kepadanya,“kamu tidak tahu dan tidak mau mengikuti orang-orang yang tahu.” Kemudian dipukullah dia dengan palu dan menjerit yang bisa didengar oleh penghuni kubur di sekitarnya.” (Shohih Bukhori juz 1 hal 448)

اِذَا وُضِعَتِ اْلجَنَازَةُ وَاحْتَمَلَهَا الرِّجَالُ عَلَى اعَنَاقهِمْ فَاِنْ كَانَتْ صَالحِةً قَالتْ قَدِّمُوْنىِ ، وَاِنْ كَانَتْ غَيْرَ صَالِحَةٍ قَالَتْ يَاوَيْلَهَا اَيْنَ تَذْهَبُوْنَ بِهَا، يَسْمَعُ صَوْتَهَا كُلُّ شَيْئٍ اِلاَّ اْلاِنْسَانَ وَلَوْ سَمِعَهُ صَعِقَ.

Artinya: “Ketika jenazah mau diantarkan ke kubur, jika ia seorang yang shaleh akan berkata: Segera bawa aku ke pemakaman. Dan jika ia bukan orang shaleh, ia akan berkata: Celakalah aku, mau kau bawa ke mana diriku. Suara tersebut bisa didengar oleh semua makhluk kecuali manusia, dan jika manusia mendengarnya maka akan pingsan.” (Shohih Bukhori juz 1 hal 442)

Thabrani, Ahmad, dan Ibnu Manbah dalam kitab Mirqatul Mafatih Syarh Misykatul Mashabih (juz 5 hal 388) meriwayatkan hadits dari Abu Sa’id al-Khudri bahwa Nabi s.a.w. bersabda:

اِنَّ اْلمَيِّتَ يَعْرِفُ مَنْ يَغْسِلُهُ وَمَنْ يَكْفِنُهُ وَمَنْ يُدْلِيْهِ فِى حَفَرَتِهِ

Artinya: “Sesungguhnya mayit mengetahui siapa yang memandikannya, mengkafaninya, membopongnya, dan yang memasukkannya ke liang lahat.”

Sa’id bin Zubair berkata: “Sesungguhnya orang yang telah meninggal dunia tahu atas kondisi keluarganya yang masih hidup, jika kerabatnya baik, dia akan merasa bahagia, jika mereka buruk, maka akan merasa sedih.”

Ibnu Munabbih berkata: “Sesungguhnya Allah membangun istana di langit ketujuh bernama istana Baidha’ untuk mengumpulkan ruh orangorang mukmin. Jika ada penduduk bumi yang meninggal dunia, maka dia akan disambut para ruh dan ditanya tentang berita penduduk bumi, sebagaimana pertanyaan untuk keluarga yang baru datang dari bepergian.”

Adapun tentang kembalinya ruh ke dalam jasad orang yang meninggal, terdapat riwayat dari Bara’ bin ‘Azib: “Kami keluar bersama Nabi s.a.w. lalu kami duduk dengan tenang seolah-olah di kepala kami terdapat burung yang hinggap, lalu Nabi mengangkat pandangannya dan kemudian menunduk. Kemudia bersabda, “sesungguhnya jika seorang mukmin berada dalam kubur, maka dia dihampiri malaikat dengan duduk di dekat kepalanya sembari berkata, ‘Keluarlah wahai jiwa yang tenang menuju ampunan dan ridha Allah.’

Maka ruh orang itu keluar mengalir bagaikan air hujan, dan para malaikat turun dari surga dengan wajah berseri dan membawa kain kafan dan ramuan pengawet dari surga. Mereka duduk di sekitar mayat itu secara berderet sejauh mata memandang, jika malaikat mencabut ruh tersebut, maka dia tidak akan membiarkan ruh itu berada di tangannya walau hanya sekejap. Itulah yang dimaksud dengan ayat,

تَوَفَتْهُ رُسُلُنَا وَهُمْ لاَيُفَرِّطُوْنَ

“Dia diwafatkan oleh malaikatku dan aku tidak melalaikan kewajibannya.” (QS. al-An’am: 61)

Rasulullah bersabda: “Ruh orang mukmin keluar dengan aroma paling harum yang pernah dijumpai, dan para malaikat akan naik ke langit dengan membawa ruh tersebut melewati ruh para umat terdahulu, mereka bertanya, ‘ruh siapakah itu?’ dijawab, ‘ini adalah ruh si polan.’ Sampai akhirnya para malaikat sampai di pintu langit dunia, lalu dibukakan pintu untuk mereka.

Dan mereka digiring oleh malaikat Muqarrabin yang berada di tiap-tiap lapis langit sampai berhenti di langit ketujuh. Maka Allah berfirman, ‘Tulislah orang ini dalam “Iliyyin.”

Setelah itu dikatakan pada Malaikat, ‘Kembalikan lagi dia ke bumi, karena sesungguhnya aku telah berjanji kepada mereka bahwa aku telah menciptakan dari unsur bumi, aku akan mengembalikan mereka padanya, dan akan membangkitkan mereka darinya.’ Akhirnya malaikat mengembalikan ruh tersebut ke bumi untuk di tempatkan ke dalam jasadnya, lalu ada dua malaikat yang menghampirinya. Keduanya sangat galak.

Mereka menghardik dan menyuruhnya untuk duduk. Lalu keduanya bertanya, “Siapakah Tuhanmu dan apa agamamu ?.” Ruh itu menjawab, “Allah Tuhanku dan Islam agamaku.” Lalu ditanya lagi, “Bagaimana pendapatmu tentang lakilaki yang diiutus untuk kalian ?” dia menjawab “Dia adalah utusan Allah.” Ditanya lagi, “Apayang membuatmu mengetahui hal itu ?” Dia menjawab, “Telah datang kepada kami berbagai bukti dari Tuhan kami maka kamipun mengimani dan membenarkannya.” Kemudian Rasul s.a.w. bersabda, “Itulah yang dimaksud dengan firman Allah s.w.t. “Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan akhirat.” (QS. Ibrahim : 27)

Rasulullah s.a.w. bersabda: “Lalu ada penyeru dari langit, ‘Sungguh hambaku telah berkata benar.’ Maka Malaikat memberinya pakaian dan menggelarkan permadani dari surga. Diapun bisa melihat tempatnya di surga. Amal kebaikannya menjelma menjadi seorang laki-laki tampan nan wangi dan berkata, ‘Berbahagialah kamu atas apa yang telah disiapkan Allah s.w.t. berbahagialah kamu karena mendapatkan ridha Allah s.w.t. dan tempat tinggal yang kekal.

Lalu ruh itu bertanya: “Semoga Allah juga membuatmu bahagia, Siapakah dirimu sebenarnya? karena wajahmu merupakan wajah yang menyambut kami dengan baik, lelaki itu menjawab, “Inilah hari dan sesuatu yang telah lama dijanjikan untukmu.

Aku adalah amal shalehmu. Demi Allah aku telah menyaksikanmu sangat cepat melakukan ketaatan kepada Allah dan enggan melakukan kemaksiatan, oleh karena itulah Allah memberikan balasan yang baik untukmu. Kemudian ruh itu berdoa, “Ya Allah segerakanlah kiamat agar aku bisa kembali kepada keluarga dan hartaku.” Namun jika ia orang yang durhaka, maka malaikat akan berkata, “Keluarlah wahai jiwa yang buruk, hadapilah murka dan siksa Allah. Lalu ada malaikat yang turun dengan muka seram sambil membawa kain kafan.

Rasulullah bersabda : “Maka ruh orang itu dipisahkan dari jasadnya sampai terputus urat nadinya seperti besi bercabang yang ditarik dari kumpulan bulu yang basah. Ruh itu diambil oleh para malaikat dengan bau yang sangat busuk, dia akan melewati gerombolan arwah yang berada antara langit dan bumi. Para malaikat berkata, “Ruh siapa yang sangat busuk ini ?” Maka dijawab, “ Ini adalah ruh fulan.” Sampai akhirnya berhenti di langit dunia dan tidak dibukakan pintu oleh malaikat penjaganya. Lalu Allah berfirman, “Kembalikanlah dia ke bumi sesungguhnya aku telah berjanji bahwa mereka telah aku ciptakan dari unsur bumi dan akan aku bangkitkan darinya.” Rasulullah s.a.w. bersabda, “Maka ruh itu kemudian dilempar dari atas langit.” Lalu beliau membaca ayat berikut ini:
وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللهِ فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنَ السَّمَاءِ
Artinya: “Barang siapa mempersekutukan Allah, maka ia seolah-olah jatuh dari langit.” (QS. al-Haj : 31).

Orang itupun akhirnya dikembalikan ke bumi dan ruhnya dikembalikan lagi ke dalam jasadnya, lalu dia didatangi dua malaikat yang sangat bengis dan mneyuruhnya untuk duduk, lalu bertanya, “Siapakah Tuhanmu, dan apakah agamamu ?” orang tersebut akan menjawab, “Aku tidak tahu, aku mendengar orang-orang mengatakan hal tersebut.” Lalu malaikat berkata, “Kamu memang tidak mengetahuinya.” Lalu dia dihimpit liang kuburnya sampai tulang rusuknya berantakan, lalu amalnya menjelma menjadi lakilaki yang buruk rupa, berbau busuk dan berpakaian jelek, dan berkata, ‘Terimalah adzab dari Allah.’ Orang tersebut lalu bertanya, “Siapakah engkau ?” wajahmu seperti wajah orang yang membawa keburukan.” Laki-laki tersebut menjawab, ‘Aku adalah amal burukmu, demi Allah aku telah menyaksikan dirimu sangat malas melakukan ketaatan kepada Allah dan gemar melakukan maksiat.

Lalu Allah mendatangkan malaikat yang bisu lagi tuli dengan membawa besi yang mampu membuat gunung menjadi debu, lantas orang tersebut dipukuli hingga menjerit-jerit sampai bisa didengar oleh makhluk kecuali jin dan manusia, kemudian ruh orang tersebut dikembalikan ke dalam jasadnya untuk menerima pukulan berikutnya. (Ithaf al Khairoh karya Ahmad Al Bushairy juz 2 hal 436)

Berkata Imam Haramain dan al-Faqih Ibnu al-‘Arabi dan Imam Saifuddin al-Amidi,

اِتَّفَقَ سَلَفُ اْلاُمَّةِ قَبْلَ ظُهُوْرِ اْلمُخَالِفِ وَاَكْثَرُهُمْ بَعْدَ ظُهُوْرِهِ عَلَى اِثْبَاتِ اِحْيَاءِ اْلمَوْتَى فِى قُبُوْرِهِمْ، وَمَسْأَلَةُ اْلمَلَكَيْنِ لَهُمْ، وَاِثْبَاتِ عَذَابِ اْلقَبْرِ لِلْمُجْرِمِيْنَ وَاْلكَافِرِيْنَ.

Artinya: “Telah bersepakat ulama salaf, sebelum munculnya perbedaan pendapat, bahwa orang yang meninggal dunia akan kembali dihidupkan di dalam kuburmya, juga tentang pertanyaan dua orang malaikat, dan siksa kubur bagi orang-orang yang berbuat dosa.”

Sedangkan firman Allah s.w.t.

 وَاَحْيَيْتَنَا اثْنَتَيْنِ 
“Dan engkau telah menghidupkan kami dua kali.” (al-Ghafir : 11)

Maksudnya adalah, kehidupan di alam kubur dan kehidupan di alam Mahsyar. Ketahuilah bahwa sesungguhnya hadits tentang Malaikat Maut, dan derajat di akhirat, adalah perkara yang bersifat mutasyabihat yang tidak ada analisis rasional di dalamnya. Manusia benar-benar diuji untuk mempercayainya.

Ahlussunah telah sepakat bahwa orang yang meninggal dunia mampu mengambil manfaat dari amalan orang yang masih hidup. Hal ini setidak-tidaknya dalam dua hal: pertama, Shadaqah Jariyah, dan kedua, Doa orang-orang muslim, dan lain-lain. Tetapi para ulama berbeda pendapat mengenai bentuk ibadah fisik. Seperti puasa, shalat, bacaan al-Qur’an, dan alunan dzikir.

Mayoritas para ulama’ berpendapat, bahwa pahala dari semua hal-hal di atas bisa sampai kepada mayit. Sedangkan para ahli bid’ah mengatakan, bahwa pahala tersebut tidak bisa sampai kepada mayit. Pendapat yang terakhir ini mendasarkan pada al-Qur’an dan Sunah sebagai berikut :

وَاَنْ لَيْسَ لِلاِنْسَانِ اِلاَّ مَا سَعَى

Artinya: “Dan sesungguhnya seorang manusia tidak memperoleh selain apa yang diusahakannya.” (QS. al-Najm : 39)

Namun demikian ayat di atas tidak menafikan kemungkinan seseorang mendapatkan manfaat dari usaha orang lain. Yang dinafikan oleh Allah dalam ayat itu adalah kemungkinan untuk memiliki sesuatu yang tidak dia upayakan. Karena seseorang (dalam ibadah) dapat menghadiahkan pahalanya untuk dirinya atau untuk orang lain. Karena Allah s.w.t. tidak berfirman dengan,

اِنُّهُ لا ينتَفِعُ اِلا مَا سَعَى
“Sesungguhnya seseorang tidak bisa mengambil manfaat kecuali apa yang telah dia usahakan.”

Wallohu Alam bish Showab...

Artikel bersumber : https://www.facebook.com/portalmuslimberiman

Artikel Terkait

Latest
Previous Article
Next Post »
Comment with facebook account