Hukum Transaksi via E-commerce

Senin, Januari 08, 2018
Kemajuan teknologi dan informasi telah mengantarkan pada pola kehidupan umat manusia yang lebih mudah. Sehingga merubah pola sinteraksi antar anggota masyarakat. Pada era teknologi dan informasi ini, khususnya internet, seseorang dapat melakukan perubahan pola transaksi bisnis, baik berskala kecil maupun besar. yaitu perubahan dari paradigma bisnis konvensional menjadi paradigma bisnis elektronikal. Paradigma baru tersebut dikenal dengan istilah Electronic Commerce, umumnya disingkat E-Commerce.
Hukum transaksi E-commerce
Kontrak elektrik adalah perjanjian para pihak yang dibuat melalui sistem elektronik, maka jelas, kontrak elektronikal tidak hanya dilakukan melalui internet semata, tetapi dapat juga dilakukan melalui medium facsimile, telegram, telex, dan telpon, kontrak elektronikal yang menggunakan media informasi dan komunikasi terkadang mengabaikan rukun jual beli (bai’), seperti sighat, ijab qabul, dan syarat pembeli dan penjual yang harus cakap hukum, bahkan dalam hal transaksi elektronikal ini belum diketahui tingkat keamanan proses transaksi, identifikasi pihak yang berkontrak, pembayaran, dan ganti rugi akibat kerusakan, bahkan, akad nikah pun sekarang telah ada yang menggunakan fasilitas telpon atau Cybernet.

Pertanyaan

  1. Bagaimana hukum transaksi via elektronik, seperti media telpon, e-mail, atau sosial media dalam akad jual beli?
  2. Sahkan pelaksanaan akad jual-beli yang berada di majlis terpisah?


Jawaban

Dalam literatur fiqh, ada beberapa pendapat yang bisa kita jadikan rujukan untuk memecahkan masalah tersebut. Jual beli online memang sudah semakin menjamur di era digital sekarang ini, akan tetapi juga tidak menutup kemungkinan kita bisa membuat analisis dari berbagai masalah yang timbul pada jaman dahulu yang kemudian bisa kita kontekstualisasikan untuk menjawab permasalahan jaman sekarang. Prinsip silogisme menjadi metode analisis yang digunakan untuk menjawab pertanyaan diatas.

Menurut qaul al-Azhhar, akad tersebut sungguh tidak sah selain dalam masalah fuqa’-sari anggur yang dijual dalam kemasan rapat/tidak terlihat- (jual beli barang ghaib), yakni barang yang tidak terlihat oleh dua orang yang bertransaksi, atau salah satunya. Baik barang tersebut berstatus sebagai alat pembayar maupun sebagai barang yang dibayari. Meskipun barang tersebut ada dalam majlis akad dan telah disebutkan kriterianya secara detail atau sudah terkenal secara luas -mutawatir-, seperti keterangan yang akan datang. Atau terlihat di bawah cahaya, jika cahaya tersebut menutupi warna aslinya, seperti kertas putih. Demikian menurut kajian yang kuat. (Nihayah al-Muhtaj ila Syarh al-Minhaj Juz III, h. 415-416)

Muhammad Syaubari al-Khudhri berkata: “Termasuk padanan kasus tercegah melihat mabi’-barang yang dijual- adalah melihat mabi’ dari balik kaca. Cara demikian tidak mencukupi syarat jual beli. Sebab, standarnya adalah menghindari bahaya ketidakjelasan mabi’, yang tidak bisa dipenuhi dengan cara tersebut. Sebab, secara umum barang yang terlihat dari balik kaca terlihat beda dari aslinya. Demikian keterangan dari syarh al-Ramli.” (Hasyiyah al-Bujairami ‘ala al-Khatib Juz I, h. 262)

Syaikh Zakaria al-Anshari menjelaskan bahwa dalam jual beli dapat diperhitungkan ungkapan yang menunjukkan kerelaan atau yang bersubtansi sama dari ungkapan yang memanifestasikan kerelaan, seperti tulisan atau sesamanya, seperti isyarat orang bisu. Demikian penjelasan Barmawi dalam kitab Futuhat al-Wahhab bi Syarh Manhaj al-Thullab Juz III, h. 8.

Hal senada juga dijelaskan oleh Muhammad bin Ahmad al-Syatiri yang berpendapat bahwa hal yang diperhitungkan dalam akad-akad adalah subtansinya, bukan bentuk lafalnya. Dan jual beli via telpon, teleks dan telegram dan semisalnya telah menjadi alternatif utama dan dipraktikkan. (Syarh al-Yaqut al-Nafis Juz II, h. 22)

Ibn Hajar al-Haitami dalam Tuhfah al-Muhtaj wa Hasyiyah al-Syarwani (Juz IV, h. 221-222) menjelaskan bahwa tetap sah jual beli dari selain orang yang sedang mabuk, yang tidak mengerti. Sebab ia tidak termasuk orang yang sah niatnya, seperti keterangan dalam bab Talak yang akan datang. (dengan sighat kinayah) beserta niat … Menulis yang tidak pada zat cair dan udara termasuk kinayah. Maka jual beli dengannya disertai niat hukumnya sah.

Meskipun bertransaksi dengan orang yang hadir dalam majlis akad. Maka ia harus segera menerima akad tersebut ketika mengetahuinya, dan khiyar mereka berdua berlaku sampai bubarnya majlis penerimaan –qabul– akad. (Ungkapan Ibn Hajar “dan menulis …”) Dan sama dengannya, berita via teknologi kabel -telpon- yang dikembangkan pada zaman sekarang ini. Maka akad dengannya termasuk kinayah menurut kajian yang kuat.

Dengan berdasarkan beberapa pendapat dan analisis para ulama ahli fiqih diatas, dapat disimpulkan:
  1. Hukum akad jual beli melalui alat elektronik sah, apabila sebelum transaksi kedua belah pihak sudah melihat mabi’ (barang yang diperjual belikan) atau telah dijelaskan baik sifat maupun jenisnya, serta memenuhi syarat-syarat dan rukun-rukun jual beli lainnya.
  2. Pelaksanaan akad jual-beli meskipun di majlis terpisah tetap sah.


Wallohu A’lam.

Artikel Terkait

Next Article
« Prev Post
Previous Article
Next Post »
Comment with facebook account

1 Komentar:

Write Komentar
Ammar Dental
AUTHOR
8 Januari 2018 21.02 delete

Mantap referensinya mas

Reply
avatar

Silahkan berkomentar dengan baik kata-kata dan bahasa adalah gambaran kualitas diri anda.